Syekh Yusuf Makassar : Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang
Jenis: Monograf
Author: Abu Hamid
ISBN: 978-979-461-175-1
Edisi: Cet.2
Publisher: Yayasan Obor Indonesia,
Fisik: xxvi, 402 hlm. : ilus. ; 14,5 x 21 cm
Subjek: Biografi Syekh Yusuf Makassar
Bahasa: Indonesia
Penerbitan: Yayasan Obor Indonesia, Jakarta : 2005
CallNumber: BC 922.97 ABU s
Uraian Singkat: Syeikh Yusuf Al Makassari Al Bantani. Lahir dan besar di Makassar. Merantau ke Banten. Berguru ke Aceh hingga Mekah. Berjuang kontra Belanda dalam hutan-hutan lebat di tatar Banten (bersama Sultan Ageng Tirtayasa, Pangerang Purbaya). Ditipu siasat culas Kompeni di pedalaman Pandeglang. Dibuang ke Cylon (Srilangka). Kemudian wafat di Cape Town (Tanjung Harapan) Afrika Selatan. Jejak pengembaraan yang mendunia itu mengharumwangikan namanya. Beliau adalah satu-satunya orang Indonesia yang mendapat gelar pahlawan di dua negera, yaitu Indonesia dan Afrika Selatan. Presiden Afsel, Thambo Mbeki, menyematkan penghargaan Oliver Thambo kepada ahli waris sang Syeikh. Beliu pun memiliki banyak pengikut, di Makassar, Bone, Banten, Srilanka, India (tanah Hindustan), hingga Afrika Selatan. Hingga kini ajaran tarekatnya masih diminati para mursyid, pencari jalan kebenaran sufistik. Paling menonjol, semua tempat itu (entah di Makassar, Banten, Srilanka, dan lebih lagi Afsel) mengklaim kuburan Syeikh Yusuf ada di tanah mereka. Ini bukti-bukti keagungan dedikasi dan perjuangan dakwah Ulama berdarah bangsawan Goa Tallo Makassar itu. Keutamaan nilai-nilai agung dalam diri Syeikh Yusuf Makassar di sudut yang lain membuat pemerintahan penjajah Hindia Belanda muntah. Mereka menganggap Sang Syeikh sebagai kerikil dalam sepatu. Pelbagai cara dilakukan. Termasuk menggempur, mengejar, dan memburu Syeikh Yusuf serta para pengikutnya di hutan-hutan pedalaman Banten. Memang, di Bantenlah sesungguhnya ilmu dan kobar jihad Sang Syeikh menguar kental. Beliau menjadi Mufti (semacam Hakim Agama Islam) di masa kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten. Lalu menjadi Tuan Syeikh (Tuan Guru) yang menyedot banyak murid. Oleh Sultan Ageng, beliau dinikahkan dengan salah satu puterinya. Lalu dipercaya pula mendidik anak-anak dan keluarga Sultan (dalam hal ilmu keagamaan). Berikutnya adalah terlibat dalam konflik bersenjata dengan balatentara kompeni. Pecahnya perang Banten bermula dari permasalahan Putera Mahkota, yakni Sultan Haji (anak Sultan Ageng, Banten). Sultan sebenarnya memberi kesempatan pada puteranya untuk melanjutkan etape kepemimpinan, Sultan sendiri memilih tempat lain di luar istana, yakni di Tirtayasa (perbatasan antara Tangerang dan Serang, juga tempat kelahiran Ulama Besar Banten, yakni Syeikh Nawawi Al Bantani). Namun seiring waktu, Sultan Haji condong memihak Belanda. Ini memicu kemarahan rakyat Banten. Kondisi ini klop dengan strategi belah bambu ala Belanda. Terjadilah pemberontakan besar, namun Sultan Haji di selamatkan Belanda. Sejak itu, pergolakan terus menerus terjadi. Syeikh Yusuf memihak pribumi Banten (bersama Sultan Ageng dan lain-lain). Mereka melakukan gerilya. Namun, perlawanan sengit itu berakhir tatkala Belanda berhasil menawan puteri Syeikh Yusuf, lalu dijadikan alat merayu Sang Syeikh, agar mau ke luar dari hutan. Belanda lalu membuang Syeikh Yusuf ke luar Nusantara, dengan harapan pengaruh Syeikh pupus.
| No Barcode | No Induk | Nomor Panggil | Akses | Status | Lokasi |
|---|---|---|---|---|---|
| Tidak Diketahui | Tidak Diketahui | Tidak Diketahui | Tidak Diketahui | Tidak Diketahui | Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten |
| Tag | Ind1 | Ind2 | Isi |
|---|