Sjadzli Hasan, Prof. KH. M., : Ulama, Pejuang, Negarawan, Akademisi & Pemikir

Jenis: Monograf

Author:

ISBN: 979-902-14923-0-7

Edisi: Cet. I;

Publisher: Baiturrahman,

Fisik: xxxxii + 212 hlm : ilus ; 21 cm

Subjek: Biografi Ulama

Bahasa: Indonesia

Penerbitan: Baiturrahman, Bandung; : 2014;

CallNumber: 297.09 2 SJA

Uraian Singkat: Jika seseorang yang mampu menjadi ulama , pemikir, pejuang, negarawan, dan akademisi sekaligus, dia pasti adalah Prof. KH. M. Syadeli Hasan orangnya. Di dunia akademisi, nama beliau barangkali tidak asing lagi. Bahkan, kini nama itu diabadikan sebagai nama sebuah gedung di IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Dalam sejarah perjuangan Indonesia, KH. M. Sjadzli Hasan yang lahir di kampung Beji, Bojonegara, Kabupaten Serang, pada tanggal 24 Oktober 1914 tercatat sebagai pejuang yang gigih mempertahankan Banten dari cengkraman kolonial Belanda dan Jepang. Latar Belakang pendidikan KH. M. Sjadzli Hasan yang pernah nyantri di Al-Khairiyah Citangkil, dibawah asuhan seorang ulama yang multidimensional yakni Brigjend. KH. Syam’un ini membuat ia tidak hanya dikenal sebagai pejuang militan. Tetapi juga ulama dan akademisi. Hal ini terbukti, KH. M. Sjadzli Hasan adalah alumni dari Daar al-‘Ulum Cairo University (Al-Jami’ah al-Qahirah) dan ikut serta dalam mendirikan Sekolah Tinggi Islam Yogyakarta (sekarang menjadi UII) bersama Prof. A. Kahar Muzakkir. Dalam dunia politik, KH. M. Sjadzli Hasan bergabung dalam anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP- Sekaran DPR-RI). Pada agresi Belanda II, KH. M. Sjadzli Hasan turut berjuang melawan penjajah bersama alumni-alumni Al-Khairiyah Citangkil lainnya. Track record KH. M. Sjadzli Hasan bukan hanya pada perjuangan pasca-kemerdekaan dan bidang akademisi. Beliau juga adal tokoh pemikir yang melampaui zamannya. Salah satu kajian menarik tentang pemikirannya dalam bidang tashawuf tentang wihdatul adyan. Dalam pandangan tashawauf KH. M. Sjadzli Hasan, wihdatul adyan adalah kesatuan agama-agama samawi semenjak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad saw adalah Islam. KH. M. Sjadzli Hasan juga menjelaskan tiga esensi dalam ajaran tashawuf yakni dzikir, sholawat nabi, dan cinta kepada Ahlul Bait. Menurut Ismet S. Hasan yang merupakan anak KH. M. Sjadzli Hasan menuturkan “mama (panggilan ayah anak-anak KH. M. Sjadzli Hasan ) ulama yang siap hadir di kerumunan masyarakat kecil. Tidak canggung mendakwahi kaum jawara-pendekar bahkan rombongan tukang bikin onar, Mama tak gentar. Siap hadir di ruang birokrasi, siap hadir di ruang akademik dan di mana saja”.

No Barcode No Induk Nomor Panggil Akses Status Lokasi
Tidak Diketahui Tidak Diketahui Tidak Diketahui Tidak Diketahui Tidak Diketahui
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten
Tag Ind1 Ind2 Isi