Makna Perumahan Vertikal Komunal dalam Persepsi dan Penerimaan MAsyarakat Bali

Jenis: Monograf

Author: Ni Luh Putu Dessy Dharmayanty

ISBN: 978-623-7815-90-7

Edisi: Cet 1

Publisher: Yayasan Pendidikan dan Sosial Indonesia (YPSIM) Banten,

Fisik: xvii, 236 hlm. : ilus ; 14,8 x 21 cm

Subjek: Desain Vertikal - Bali

Bahasa: Indonesia

Penerbitan: Yayasan Pendidikan dan Sosial Indonesia (YPSIM) Banten, Ciruas - Serang : 2020

CallNumber: 729.1959862 NI m ; CB.D.32 .03 .2020 - 5899

Uraian Singkat: Rumah merupakan kebutuhan pokok setelah makanan dan pakaian dalam kehidupan manusia. Demikian pula dengan aktifitas sosial pada lingkngan. Sebagai masyarakat rumah juga menunjukan status sosial pemiliknya. Di Bali rumah juga berfungsi untuk mewadahi kegiatan psykhologis dalam kaitan adat dan budaya yang berlandaskan konsep Tri Hita Karana. Dalam pelaksanaan aktifitas ritual Pancayadnya. Masyarakat Bali, mayoritas beragama Hindu dan sangat kental nuansa religiusnya dalam setiap kegiatan keagamaannya. Setiap aktifitas selalu dikaitkan dengan keyakinan dan tradisi yang sudah dilaksanakan secara turun temurun dari generasi ke generasi dengan atau tanpa penyesuaian dengan perkembangan teknologi dan perubahan zaman. Bagi masyarakat perantauan tinggal di perkotaan, tentu membutuhkan hunian juga. Terlepas dari berbagai alasan mengapa mereka merantau ke kota. Kebutuhan hunian mereka wajib diperhitungkan oleh pemangku kebijakan agar berkembang terencana dan tidak bertentangan dengan regulasi kependudukan maupun penataan ruang ruang kota. Perumahan Vertikal komunal merupakan salah satu alternatif pilihan hunian yang ditawarkan kepada kaum urban di perkotaan untuk tempat tinggalnya, namun hasil survey menyatakan bahwa di wilayah Bali pilihan hunian di perumahan vertikal komunal sangat kecil 11%. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat Bali belum bisa memilih Perumahan Vertikal sebagai pilihan huniannya. Buku ini akan mencoba menelusuri potret, program dan ketersediaan model perumahan vertikal komunal di BAli dengan lokasi survey pada dua wilayah terpadat yakni Kota Denpasar dan Kota Kabupaten Badung. Dan menemukan mengapa masyarakat Bali Hindu belum bisa memilih/ berharap memilih perumahan vertikal komunal sebagai pilihan huniannya di kota? Buku ini juga diharapkan mampu memberi gambaran bahwa persepsi dan pemahaman masyarakat Bali serta harapannya pada upaya pemenuhan kebutuhan hunian wajib dipertimbangkan. Buku ini juga diharapkan dapat memberi masukan kepada penentu kebijakan perumahan, unit hunian yang seperti apa yang diharapkan oleh masyarakat perantauan di perkotaan di Bali.

No Barcode No Induk Nomor Panggil Akses Status Lokasi
Tidak Diketahui Tidak Diketahui Tidak Diketahui Tidak Diketahui Tidak Diketahui
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten
Tag Ind1 Ind2 Isi