Bentuk Estetik dan Makna Simbolik Arsitektur Masjid Agung Banten Pada Abad Ke-16
Jenis: Skripsi
Author: Aeliah
ISBN:
Edisi:
Publisher: Institut Agama Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten,
Fisik: iv, 78 hlm. ; 29 cm
Subjek: Masjid -- Arsitek -- Banten
Bahasa:
Penerbitan: Institut Agama Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Serang Banten : 2002
CallNumber: BC 726.2059823 AEL b
Uraian Singkat: Masjid berfungsi sebagai tempat melakukan ibadat kepada Allah, baik beribadat perorangan maupun secara berjama’ah. Fungsi lainnya sebagai pusat kebudayaan Islam, yaitu tempat belajar mengaji, menampung kegiatan-kegiatan masyarakat yang berada pada batas-batas ketaqwaan Islam dan berbagai kegiatan lainnya yang berjiwakan Islam. Dalam perkembangan Kesultanan Islam di Jawa, pengaruh dan kekuasaan Sultan atau Raja yang berkuasa telah menggeser fungsi masjid kea rah fungsi simbolik, sehingga masjid Kesultanan menampilkan kekuasaan Sultan yang berkuasa. Peletakan bangunan masjid di sekitar alun-alun Ibukota Kerajaan, dipengaruhi oleh factor kosmologi yang dianut oleh Sultan yang berkuasa saat itu, dimana peletakan semua bangunan tersebut merupakan perwujudan konsep makrokosmos yang diterapkan dalam pengaturan tata kota kerajaan. Bentuk dan konstruksi masjid Agung Banten dipengaruhi oleh bentuk dan konstruksi bangunan dari masa-masa sebelumnya, demikian pula dengan kelengkapan bangunan yang membawa unsur simbolik tertentu. Dalam pemakiannya sebagai bangunan ibadat Islam, unsur-unsur simbolik tersebut dikaitkan dengan ajaran agama Islam. Masuknya bangunan berarsitektur Eropa di tengah-tengah bangunan masjid Banten yang sangat bergaya tradisional memperlihatkan kekuasaan dari Sultan untuk mewujudkan pengaruh bangsa asing yang ada di dalam dirinya. Tidak dipakainya unsur-unsur hiasan berciri Islam seperti kaligrafi Arab, dan lain-lain. Pada interior dan eksterior ruang masjid adalah lebih ditujukan untuk manarik minat para pemeluk baru agama Islam untuk tidak segan-segan datang ke masjid. Tidak terdapatnya tempat khusus bagi Sultan di dalam masjid, karena Sultan dan para jama’ah lainnya memiliki derajat yang sama di dalam masjid. Atau karena Sultan melakukan shalatnya di masjid Agung tetapi di dalam masjid yang terdapat di Istana Surosowan. Makam Sultan di dalam kompleks masjid, merupakan pencerminan pengaruh yang masih kuat dari budaya tradisional sebelum Islam berkembang, dimana bangunan masjid kuat dari budaya tradisional sebelum Islam berkembang, dimana bangunan masjid Kesultanan dianggap sebagai bangunan penting. Dengan demikian makam Sultan beserta keluarganya ditempatkan di lingkungan dalam masjid Kesultanan.