Kronik Peralihan Nusantara : Liga Raja-Raja Hingga Kolonial / Bayu Widiyatmoko, editor, Mapa

Author Buku: Bayu Widiyatmoko ; Mapa

ISBN: 978-602-1634-12-7

Author Resensi: N Ratih Suharti

Tanggal Resensi: 04 Juni 2024

Resensi Buku:

Kehidupan tidak tumbuh dan meninggi dengan sendirinya. Sebelum menjulang dan berkembang atau tumbang, tentu sudah ada akar yang tertancap jauh ke dalam. Demikian pula dengan peninggalan, baik berupa reruntuhan ataupun sisa-sisa tradisi, menjadi bukti bagi adanya suatu tatanan dan pencapaian-pencapaian tertentu pada kehidupan yang terdahulu. Penemuan berbagai situs sejarah maupun berbagai catatan dan hikayat kuno yang lestari adalah jejak-jejak bagi adanya proses eskalasi maupun konversi peradaban di masa silam.

Melalui pecahan-pecahan situs maupun berbagai catatan yang berhasil dan semakin banyak diketemukan tentang Nusantara sekurang-kurangnya cukup apabila hanya untuk membuktikan adanya tamadun yang setanding dengan keemasan Persia, Cina, Romawi hingga kebesaran Abassiyah dan Turki Osmani. Pada massanya dulu, leluhur orang Nusantara adalah suatu masyarakat dengan pencapaian budaya amat mengagumkan. Dan oleh karena itu mustahil apabila kerajaan-kerajaan di Nusantara dulu hanya menjadi penonton yang pasif menyaksikan pentas persaingan berbagai imperium dan emporium bangsa-bangsa di sekelilingnya.

Situs-situs kolosal semacam Borobudur dan Prambanan tentunya merupakan produk budaya yang hanya bisa dihasilkan oleh masyarakat dengan tingkat kemapanan tinggi di berbagai bidang. Oleh karena itu, tidak pula dapat disangkal, kawasan yang juga dikenal bernama Nusantara ini tentunya merupakan daerah yang dulu sarat dengan keunggulan dan kejayaan. Semenjak Jalur Sutra_ yang melalui darat ditinggalkan, Nusantara secara langsung menjadi kunci pertemuan dagang dari daerah-daerah di Mediterania, Teluk Persia, Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan. Hal ini dimungkinkan karena Nusantara memang sudah sejak lama menjadi pemasok utama bagi kebutuhan dunia. Di pelabuhan-pelabuhan milik Sriwijaya, Sunda, Pasai, Majapahit hingga Malaka, Aceh, Banten dan Makassar, pelaut-pelaut dari berbagai benua datang dan berlomba-lomba mempertunjukkan reputasinya. Dan, sejak kehadiran kapal-kapal perdagangan dari Persia_Arab, Gujarat, Benggali, Cina hingga Portugis dan Belanda serta adanya perdagangan dan transaksi keuangan yang tidak lagi bersifat lokal, berbagai kota pelabuhan di Nusantara bisa dipastikan telah menjadi pusat perdagangan maritim dan turut menceburkan diri ke dalam arus pertarungan global. Melimpahnya kekayaan alam serta letak wilayah yang strategis telah menjadikan Nusantara sebagai main stage persaingan antar bangsa-bangsa Barat dan Timur. ( N Ratih Suharti)

Kata Kunci : Sejarah Nusantara