Iman dan Diplomasi Serpihan Sejarah Kerajaan Bima
Author Buku: Henri Chambert-Loir, Massir Q Abdullah, Suryadi, Oman Fathurahman, H Siti Maryam Salahuddin.
ISBN: 978-979-91-0237-9
Author Resensi: N Ratih Suharti
Tanggal Resensi: 26 November 2024
Resensi Buku:
Sejarah lokal, yaitu keping-keping sejarah nasional Indonesia- dapat digali dari berbagai sumber, antara lain dari naskah-naskah kuno dalam beberapa bahasa daerah. Ternyata banyak kerajaan di masa lampau mempunyai tradisi penulisan sejarah sendiri. Di Kerajaan Bima Pulau Sumbawa NTB (Nusa Tenggara Barat), naskah-naskah sejarah itu berlimpah, yang kini perlu diselidiki dan diterbitkan agar memperluas visi kita tentang keadaan dan perkembangan masyarakat Bima pada masa silam.
Buku ini menguak tiga dokumen dari Bima, berasal dari abad ke-18 dan 19, dengan fokus terhadap dua komponen terpenting dari dinamika kerajaan masa lalu, yaitu iman dan diplomasi, atau agama dan politik, atau kebijakan dalam dan luar negeri. Di dalam negeri, pemerintah Bima terus memperdalam dan memperkuat agama Islam sebagai salah satu asas terpenting struktur msyarakat, sedangkan menyangkut luar negeri, pemerintah harus pandai mengatur siasat menghadapi hegemoni Belanda.
Dokumen Pertama adalah berisi sebuah fragmen (itulah saja kiranya yang tersisa) dari sebuah Bo’, yaitu sebuah buku catatan harian yang ditulis secara teratur di kediamansalah seorang pembesar Bima, Bumi Luma Rasanae, sepanjang periode 1765-1790, yakni pada masa awal pemerintahan Sultan Abdul Hamid Muhammad Syah. Isinya dianalisa dalam pengantar Bab I di bawah ini. Dari dokumen tersebut kita memperoleh gambaran sebuah kerajaan yang pada umumnya boleh dikatakan stabil, berkuasa, damai, tertib, sejahtera dan taat pada berbagai peraturan baik adatdan hukum maupun keagamaan.
Dokumen Kedua terdiri dari 10 surat diplomatik yang ditulis oleh Sultan Abdul Hamid pada periode selanjutnya, yakni tahun 1970-1818. Surat-surat itu dialamatkan kepada Gubernur Jenderal Kompeni Belanda, kecuali satu surat ditujukan kepada Syahbandar Batavia.
Dokumen Ketiga adalah sebuah risalat keagamaan berjudul Jawharat al-ma’arif (“Permata Ilmu Makrifat”), yang ditulis oleh seseorang asal keturunan kaum bangsawan Bima bernama Haji Nur Hidayatullah al-Mansur Muhammad Syuja’uddin. Membaca penjelasan oleh penulisnya sendiri, risalat ini diterjemahkan dari Shams al-ma’rif al-kubra karya Aomad ibn ‘Ali al-Buni (“maka inilah suatu risalah dipindahkan di dalam kitab Shams al-ma’arif yang besar”). Tetapi sebenarnya sebagaimana diterangkan oleh Oman Fathurahman di bawah ini, tidak ditemukan dalam Jawharat al-ma’arif kutipan atau uraian yang jelas berasal dari karangan al-Buni tersebut. (N Ratih Suharti)
Kata Kunci : Sejarah Kerajaan Bima