Pukul Setengah Lima

Author Buku: Rintik Sedu

ISBN: 978-602-067-275-5

Author Resensi: N Ratih Suharti

Tanggal Resensi: 31 Mei 2025

Resensi Buku:

Pukul Setengah Lima adalah sebuah novel karya Rintik Sedu (nama pena dari Nadhifa Allya Tsana). Novel ini mengangkat kisah seorang perempuan muda bernama Alina yang berjuang menghadapi trauma keluarga dan memilih untuk menciptakan identitas baru sebagai pelarian dari kenyataan hidupnya yang kelam.

Alina adalah seorang gadis yang merasa hidupnya penuh dengan kesialan dan penderitaan. Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang tidak harmonis, di mana ayahnya sering melakukan kekerasan terhadap ibunya. Kondisi ini membuat Alina merasa terperangkap dalam rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung, namun justru menjadi sumber luka batin.

Setelah hubungan dua tahunnya dengan Tio berakhir, Alina merasa semakin kehilangan arah. Suatu sore, saat dalam perjalanan pulang menggunakan bus, ia bertemu dengan seorang pria bernama Danu. Pertemuan ini menjadi titik balik dalam hidupnya. Untuk melarikan diri dari kenyataan, Alina memutuskan untuk berpura-pura menjadi sosok lain bernama Marni, yang merupakan nama ibunya. Dengan identitas baru ini, ia berharap dapat menemukan kebahagiaan dan kedamaian yang selama ini ia cari.

Danu, yang jatuh hati pada Marni, mulai menjalin hubungan dengannya. Alina merasa bahagia dan diterima dalam peran barunya. Namun, kebohongan yang ia ciptakan mulai menimbulkan konflik batin. Ia merasa bersalah karena menutupi identitas aslinya dari Danu. Selain itu, ia juga harus menghadapi kenyataan bahwa Danu tiba-tiba menghilang tanpa jejak, meninggalkan Alina dalam kebingungannya.

Novel ini menggambarkan bagaimana Alina berjuang untuk menemukan jati dirinya di tengah kepalsuan yang ia ciptakan. Melalui kisah ini, pembaca diajak untuk merenungkan pentingnya kejujuran, penerimaan diri, dan keberanian untuk menghadapi kenyataan hidup.

"Pukul Setengah Lima" mengangkat tema-tema seperti trauma keluarga, identitas diri, dan pencarian kebahagiaan. Novel ini juga menyoroti bagaimana seseorang dapat terjebak dalam kepalsuan sebagai cara untuk melarikan diri dari kenyataan yang menyakitkan. Melalui perjalanan Alina, pembaca diajak untuk memahami bahwa meskipun kepalsuan dapat memberikan kenyamanan sementara, kejujuran dan penerimaan diri adalah kunci untuk menemukan kebahagiaan sejati. (N Ratih Suharti)