Martabat Ibu Pertiwi di Selat Malaka
Author Buku: Chappy Hakim
ISBN: 978 602 452 660 3
Author Resensi: N Ratihsuharti
Tanggal Resensi: 22 Juni 2025
Resensi Buku:
Penulis mengangkat tema strategis tentang pengelolaan FIR (Flight Information Region), yaitu wilayah udara yang penting dalam penerbangan sipil dan militer. Buku ini membahas delegasi pengelolaan FIR Indonesia, khususnya di Selat Malaka, kepada Singapura sejak 1946. Penulis mendorong agar Indonesia mengambil kembali kendali atas wilayah udara tersebut, yang dianggap sebagai simbol martabat dan kedaulatan negara.
Martabat Ibu Pertiwi di Selat Malaka adalah buku yang relevan dan mendesak untuk dipahami oleh generasi muda, kalangan pembuat kebijakan, serta ahli pertahanan. Buku ini menyadarkan bahwa pengendalian ruang udara bukan hanya urusan teknik, melainkan identitas dan kedaulatan bangsa. Kekurangannya lebih pada data dan sudut pandang pihak lain, tetapi ini dapat diperbaiki dengan bacaan pendukung. Secara keseluruhan, buku ini penting sebagai alat edukasi dan advokasi untuk mengambil kembali pengelolaan FIR Indonesia. Meskipun formatnya ekonomis, gagasan besar dan semangat nasionalisme yang disuguhkan patut diapresiasi.
Kelebihan Buku
- Topik Strategis & Relevan
Delegasi FIR adalah isu kritis terkait kedaulatan udara dan pertahanan nasional. Chappy Hakim menyajikannya secara mendalam dan menyentuh aspek ekonomi, keamanan, hukum, serta teknologinya. - Pendekatan Historis–Legal
Buku ini menyajikan histori jelas sejak delegasi FIR tahun 1946, juga membahas landasan hukum yang mendasari upaya pengambilalihan, seperti UU Penerbangan No. 1/2009 dan Inpres terkait. - Strategi Praktis
Menawarkan roadmap pengambilalihan FIR: peningkatan SDM, modernisasi sarana, dan restrukturisasi institusi yang realistis. - Semangat Nasionalisme, yang Menegaskan bahwa pengelolaan udara bukan sekedar teknis, tetapi merupakan wujud kehormatan dan martabat negara_kekuatan kultural dan emosional pembaca di negeri ini.
Keterbatasan Buku
- Kurangnya Data Aktual & Statistik
Buku ini lebih fokus analisis hukum dan sejarah, namun minim data terbaru seperti volume lalu lintas udara, potensi ekonomi kehilangan kontrol, atau benchmarking teknologi dengan negara lain. - Gaya Penulisan Formal–Teknis
Bahasanya cenderung kaku dan terminologis, kurang ramah bagi pembaca awam di luar kalangan penerbangan dan pertahanan. - Minim Suara Kritik Alternatif
Kurang pemaparan argumen dari pihak yang mendukung delegasi FIR atau menganggap pengambilalihan terlalu mahal/resiko tinggi. Perspektif ini akan memperkaya diskursus.