Kotawaringin: Sejarah dan Peradaban Pesisir Kalimantan
Author Buku: Moh. Ali Fadillah
ISBN: 978-623-7735-64-9
Author Resensi: N Ratih Suharti
Tanggal Resensi: 25 Juni 2025
Resensi Buku:
Berawal dari disertasi penulis di Paris (1996) tentang Kotawaringin abad XIX, buku ini dibangun atas riset arkeologis dan historis—termasuk laporan Balai Arkeologi dan institusi nasional—untuk memberikan pemahaman mendalam terhadap perkembangan politik, ekonomi, sosial budaya, dan religi di pesisir barat Kalimantan.
Kotawaringin karya Moh. Ali Fadillah adalah studi komprehensif dan bermutu tinggi yang berhasil merekonstruksi riwayat peradaban pesisir barat Kalimantan melalui perspektif multidisipliner. Kekuatan utamanya terletak pada kombinasi riset lapangan, arsip kolonial, dan laporan arkeologi, serta penekanan pada toleransi budaya. Namun, agar lebih menjangkau khalayak luas, penyertaan visualisasi dan penyederhanaan bahasa bisa meningkatkan aksesibilitasnya.
Buku ini sangat direkomendasikan sebagai referensi utama bagi mahasiswa, peneliti, dan pemerhati sejarah budaya Kalimantan. Bagi pembaca awam, disarankan membaca bersama sumber pendukung populer atau pemandu visual untuk pengalaman yang lebih menyeluruh.
Dalam penyajiannya buku ini, menjelaskan peran muara Sungai Lamandau, Arut, dan Jelai sebagai pusat transportasi perdagangan dan urbanisasi pesisir. Kotawaringin menjadi magnet bagi pedagang dari berbagai etnis—Melayu, Banjar, Jawa, Bugis, bahkan Eropa—yang mendirikan pemukiman dan memperkaya budaya local. Selanjutnya dalam pemaparannya buku ini juga melacak sejarah awal melalui kedatangan tokoh-tokoh seperti Tongara Mandi dan Kiai Gede yang menyampaikan Islam dan mendirikan pemerintahan lokal. Perjanjian dengan suku Dayak dan integrasi elite Banjar, seperti Pangeran Antakusuma, dijelaskan secara rinci, bagaimana Kesultanan Kotawaringin bertahan di era hegemoni politik-ekonomi Belanda sejak abad XIX, bernegosiasi dan berintegrasi sambil tetap memelihara struktur pemerintahan dan budaya lokal.
Selain hal tersebut di atas, buku ini merekam dialog budaya antar Dayak, Banjar, Melayu, Jawa, dan komunitas laut. Adaptasi dan koeksistensi—terutama antara Islam dan kepercayaan lokal Kaharingan—dipaparkan lewat contoh konkret seperti situs Arut, Lamandau, serta Astana Al‑Nursari. Dengan didukung laporan survei arkeologi (1994, 2014), buku ini memetakan situs kuno, artefak (terutama keramik), pemukiman pesisir, dan struktur pemerintahan lokal—menginformasikan bagaimana interaksi manusia, lingkungan, dan sejarah berlangsung di pesisir Kalimantan.
Kelebihan Buku;
- Pendekatan Interdisipliner: Menyatukan sejarah, arkeologi, antropologi, dan studi agama—mampu menangkap dinamika kompleks masyarakat pesisir.
- Sumber Primer yang Kaya: Memanfaatkan sumber dari lapangan—laporan survei, arkeologi, serta arsip kolonial dan keraton.
- Wacana Toleransi Budaya: Memberikan narasi konkret interaksi antar-etnis dan agama, serta fleksibilitas sosial lokal.
- Struktur Tematik yang Jelas: Sistematis membahas maritim, politik, budaya, hingga kolonial, mempermudah pembaca memahami konteks tiap topik.
Kekurangan
- Raritas Visualisasi: Meski berbasis riset arkeologi, buku ini minim ilustrasi, peta, atau foto situs—yang bisa memperkaya visualisasi pembaca.
- Kepadatan Akademik: Tingkat kedalaman tinggi cocok untuk pembaca akademis, tapi bisa menantang bagi pembaca umum tanpa latar pendekatan interdisipliner.
- Sumber Non-Rilis: Beberapa dokumen utama berasal dari laporan teknis yang mungkin sulit diakses pembaca luar institusi penelitian.