Persamuhan di Banten : Reportase Setengah Dekade Jilid 1 / Ken Supriyono, Editor: Rahma Frida
Author Buku: Ken Supriyono ; Rahma Frida
ISBN: 978-602-5583-51-3
Author Resensi: N Ratih Suharti
Tanggal Resensi: 25 Juni 2025
Resensi Buku:
Penulis adalah jurnalis dan esais sekaligus Koordinator Journalist Lecture di Serang, Banten, aktif sebagai reporter dan kolumnis lokal. Buku ini merupakan kumpulan reportase selama lebih dari lima tahun, menyajikan eksplorasi mendalam tentang sejarah, adat, dan sosial budaya Banten. Tujuannya untuk menggali dan menyajikan identitas kultural Banten secara luas dan otentik.
Narasi buku dilengkapi data historis, wawancara dan observasi (misalnya kunjungan ke rumah adat Kasepuhan Cisungsang pada 10 September 2016). Penulis memperkaya laporan dengan riset arsip, narasi lapangan, dan catatan esai jurnalisme yang bersifat ringan namun informatif.
Persamuhan di Banten karya Ken Supriyono adalah karya reportase budaya yang kaya dan humanis. Buku ini menyajikan kekayaan sejarah, adat, dan keberagaman sosio-kultural Banten melalui mata seorang jurnalis lokal yang piawai menangkap nuansa kehidupan sehari-hari dan akar tradisi. Ditujukan untuk pembaca umum, mahasiswa, jurnalis, dan penggiat budaya, buku ini layak menjadi referensi awal untuk memahami jiwa Banten dan meraih semangat pelestarian budaya lokal.
Dalam penyajiannya buku ini menyoroti status Kesultanan Banten sebagai salah satu kesultanan Islam terkuat di Nusantara (abad ke‑16 hingga awal abad ke‑18). Willem Lodewijcksz menyebut Banten sebagai pusat perdagangan penting pada 1596. Kemudian membawa pembaca memasuki kehidupan masyarakat suku Baduy—khususnya melalui ritual Seba Baduy—yang menekankan hubungan harmonis dengan lingkungan alam.
Kelebihan
- Kedalaman Lokal – Memberikan sudut pandang yang kaya dan detail tentang identitas Banten yang multifaset.
- Keberagaman Tema – Sejarah, adat, ekonomi, dan keberagaman etnis dikemas dalam satu narasi yang terpadu.
- Pendekatan Hidup – Reportase lapangan menyuntikkan nilai humanis dan otentik pada teks.
- Bahasa Aksesibel – Menghindari istilah akademik rumit, cocok untuk pembaca umum.
- Relevansi Budaya – Mendukung pelestarian budaya lokal dari generasi muda dan pembaca luas.
5. Kekurangan
- Kedalaman Akademis Terbatas – Dibanding teks kajian akademik, buku ini lebih ringan dan tidak memuat teori mendalam.
- Fragmentasi Topik – Struktur tiga bab besar dapat terasa terpisah, meskipun tema sentralnya tetap kohesif.
- Kurangnya Visualisasi – Tidak banyak foto atau ilustrasi untuk mendukung narasi budaya, berbeda dengan buku foto-ensiklopedi.