Makkah Paruh Kedua Abad ke-19: Kehidupan Sehari-Hari, Adat Istiadat, Pusat Belajar Agama dan Kaum-Muslim Asia Tenggara Yang Berhaji
Author Buku: C. Snouck Hurgronje; Penerjemah, Yudi Santoso
ISBN: 978-623-8108-71-8
Author Resensi: N Ratih Suharti
Tanggal Resensi: 24 Juli 2025
Resensi Buku:
Buku ini merupakan hasil observasi langsung Snouck Hurgronje saat menyamar menjadi Muslim (‘Abd al‑Ghaffār) di Makkah dan Jeddah pada 1884–1885. Ia tinggal sekitar 7 bulan, belajar langsung di madrasah, berinteraksi dengan warga lokal dan jamaah dari Asia Tenggara, serta mendokumentasikan seluruh pengalaman melalui catatan, foto, dan analisis sosial-historis. Terbit dalam dua jilid berbahasa Jerman (Mekka, 1888–89), buku ini diterjemahkan lengkap ke bahasa Indonesia.
Secara keseluruhan, buku ini adalah karya monumental—memadukan narasi observatif, riset disipliner, dan dokumentasi asli—sebagai pintu gerbang memahami Makkah bukan hanya sebagai kota suci, tetapi juga laboratorium sosial-budaya interregional. Meskipun ada kritik atas pendekatan dan bias etnis, kontribusinya tetap sangat bernilai bagi sejarawan, antropolog, akademisi Islam, dan pembaca awam yang ingin menelusuri kehidupan Makkah secara autentik di era pra-modern.
Buku ini sangat direkomendasikan bagi para akademisi dan peneliti sejarah/antropologi Islam, selain itu baik juga untuk mahasiswa studi Asia Tenggara dan Timur Tengah, selanjutnya untuk pembaca yang mengejar perspektif historis berbeda dari umum dan kolektor dokumentasi visual sejarah Islam.
Keunggulan Buku
- Observasi Partisipan: Sunguh-sungguh hidup sebagai Muslim, mendapatkan akses lapangan unik yang membedakan dari studi orientalis tradisional.
- Pendekatan Multidisipliner: Kombinasi data etnografi, sejarah, antropologi, dan foto dokumenter.
- Dokumentasi Visual: Atlas gambar (Bilder-Atlas) menyertakan foto Ka’bah, warga lokal, jamaah Asia Tenggara—beberapa hasil jepretan Snouck sendiri & teman Arabnya ‘Abd al‑Ghaffār.
- Sumber Primer Tak Tertandingi: Salah satu karya pertama yang menawarkan monografi komprehensif tentang Makkah abad ke‑19 dari sudut sosial-budaya.
· Literatur Islam Asia Tenggara: Memberikan konteks interaksi Nusantara–Makkah dalam kajian historis pendidikan dan spiritual.
Kekurangan Buku
- Pendekatan Memata-matai: Metode menyamar dianggap kontroversial, bahkan “treachery and knavery” oleh beberapa kritikus.
- Bias Etnosentrik: Beberapa catatan menggambarkan masyarakat Asia Tenggara sebagai “inferior” terhadap Arab dalam kapasitas bahasa dan religius .
- Label Orientalis: Meskipun menolak ketergesaan orientalis, beberapa memandang pandangannya tetap mengandung klise kolonial.