Jalan Ke Tanah Leluhur: Refleksi dari Bali Menuju Papua

Author Buku: I Ngurah Suryawan

ISBN: 978-623-305-477-5

Author Resensi: N Ratih Suharti

Tanggal Resensi: 24 Juli 2025

Resensi Buku:

Buku ini adalah kumpulan esai reflektif yang ditulis penulis sebagai tanggapan atas pengalaman langsungnya tinggal di Papua. Judulnya terinspirasi dari lagu Mu Man Minggil karya Willem Giryar—yang menggambarkan jalan leluhur yang terlupakan, tertutup semak, dan berubah fungsi akibat kekerasan militer atau eksploitasi alam. Footnote kesejarahan dan simbolisme lagu ini menjadi pintu gerbang bagi pembahasan lebih lanjut dalam buku. Esainya tidak sekadar naratif perjalanan, tetapi terstruktur berdasarkan observasi etnografi yang tajam, dengan mencerahkan sekaligus menantang asumsi pembaca, terutama pembaca non-Papua mengenai makna tanah, leluhur, dan keadilan sosial.

Jalan ke Tanah Leluhur adalah buku penting bagi siapa saja yang ingin memahami persimpangan budaya, identitas, serta konflik ekologis dan gender dalam konteks Papua. Kumpulan esai ini tak hanya merekam observasi antropologi, tetapi juga mengundang pembaca untuk merenungkan makna "tanah leluhur" dan posisi Indonesia di dalamnya. Pendekatan lintas budaya menjadikannya referensi berharga untuk studi akademik, sekaligus inspirasi bagi gerakan kesadaran sosial dan feminisme lokal.

Buku ini diantaranya mengkaji tentang;

1. Perjuangan Masyarakat Adat: Membandingkan kondisi masyarakat adat Bali dan Papua—dari kritik pesta kebudayaan Bali, perjuangan mempertahankan tanah adat di Papua, hingga efektivitas otonomi khusus.

  1. Dinamika Masa Pandemi: Menyoroti bagaimana komunitas adat bertahan di tengah pandemi, terutama mengenai akses kesehatan dan pangan.
  2. Perubahan Ekologis & Kapitalisme: Jejak asli jalan leluhur di Papua kini terhenti, digantikan sawit, tambang, dan infrastruktur skala besar. Ini hanya memperdalam ironi budaya dan ekologis lokal .
  3. Refleksi Feminisme Papua: Sangat menonjol kehadiran narasi perempuan Papua. Penulis tak hanya sekedar menyentuh, tetapi menghidupkan perspektif feminis dalam konflik sosial yang banyak dikuasai sudut pandang laki-laki.
  4. Sejarah & Memori Kolektif: Menautkan lagu Mu Man Minggil sebagai artefak sejarah yang menyalurkan ingatan komunitas Papua pasca DOM (Daerah Operasi Militer). Penulis berupaya menangkap epistemologi lokal dari dalam. 

Kelebihan Buku

  • Pendekatan Lintas Budaya yang Otentik – Bali ↔ Papua; penggabungan dua perspektif berbeda tapi berkaitan erat.
  • Feminisme yang Berpihak – Memberi ruang kuat untuk memahami suara perempuan Papua.
  • Wawasan Ekologis & Kritik Kapitalisme – Merefleksikan dampak ekses industrialisasi terhadap komunitas dan alam.
  • Memori & Narasi Lokal yang Hidup – Menyatukan sejarah kolektif, lirik lagu, dan praktik budaya dalam tulisan.

 Kelemahan Buku

  • Cakupan Minim – Kurang menyentuh aspek internasional atau kebijakan global yang berhubungan dengan isu Papua.
  • Teknokratisasi Emosi – Di beberapa bagian, refleksi intelektual terasa berat dan kadang kurang menyentuh sisi emosional pembaca awam.