Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesusastraan Sunda Abad ke 19

Author Buku: Mikihiro Moriyama

ISBN: 978-979-91-0023-2

Author Resensi: N Ratih Suharti

Tanggal Resensi: 06 Agustus 2025

Resensi Buku:

Semangat Baru adalah hasil disertasi Mikihiro Moriyama (Lulusan Leiden, 2003), diterbitkan dalam versi terjemahan Indonesia oleh Komunitas Bambu pada tahun 2013 (340 halaman). buku Ini merupakan kajian akademik mendalam pertama mengenai bahasa dan kesusastraan Sunda dalam konteks kolonialisme dan budaya cetak abad ke-19.

Buku terjemahan ini mangkaji dan menelusuri bagaimana pada pertengahan abad ke‑19, bahasa dan kesusastraan Sunda “ditemukan”, “dimurnikan”, dan “didayagunakan” oleh kaum kolonial Belanda sebagai bagian dari strategi kolonialisme. Melalui pengenalan sistem pendidikan modern, aksara Latin, serta teknologi percetakan litograf dan tipografi, Belanda mempraktikkan ideologi mereka di ranah kebahasaan dan kesusastraan Sunda. Fokus Utama kajiannya adalah pertama Penemuan dan kanonisasi Bahasa Sunda: Belanda awalnya menolak mengakui Sunda sebagai entitas bahasa mandiri, tetapi sejak kamus mulai diterbitkan (Roorda 1841, Rigg 1862), Sunda akhirnya mendapat status tersendiri. Dialek Bandung ditetapkan sebagai bentuk baku sejak 1872/1912. Kedua, Peran tokoh lokal: Contoh penting adalah R. H. Muhammad Moesa, tokoh Bumiputra yang menulis wara‑wacan dalam aksara Jawa, lalu beralih ke prosa dan huruf Latin; Moriyama menamakannya sebagai “pelopor” kesusastraan cetak Sunda. Ketiga, Budaya cetak dan melek aksara: Dengan melek aksara dan pertumbuhan pembaca, buku-buku pelajaran, bacaan moral, serta karya prosa lokal mulai beredar, membentuk pengetahuan baru yang berbasis sekolah kolonial dan tuntutan moralitas kolonial.

Penulis berhasil menghadirkan analisis sejarah budaya literasi Sunda abad ke-19 yang kaya dan mendalam. Semangat Baru membawa pembaca memahami bagaimana kolonialisme, teknologi cetak, dan pendidikan membentuk kesusastraan modern Sunda. Ini adalah bacaan penting bagi sejarawan, akademisi sastra, dan siapa saja yang ingin memahami bagaimana bahasa dan identitas etnis berevolusi dalam konteks kekuasaan kolonial.

Kelebihan Buku

  • Kajian multidisipliner dan sistematis: Moriyama menghubungkan bahasa, sastra, institusi pendidikan, percetakan, dan kebijakan kolonial dalam satu narasi yang utuh, membantu memahami proses transformasi budaya secara mendalam.
  • Pemanfaatan arsip dan data primer: Kamus, arsip pendidikan kolonial, naskah cetak dan tangan serta wawancara tokoh disajikan secara komprehensif.
  • Ulasan perspektif lokal dan kolonial: Buku ini membuka wawasan baru bahwa kolonialisme bukan hanya dominasi, tetapi juga mendorong perkawinan budaya yang melahirkan identitas baru kesusastraan Sunda.
  • Apresiasi positif dari sejarawan: Menurut Edi S. Ekadjati, buku ini "telah membuka mata kita tentang apa yang terjadi dan berkembang secara mendetail dalam salah satu bidang kehidupan masyarakat Sunda sepanjang abad ke‑19".
  • Testimoni pembaca: Seorang pembaca Goodreads menyatakan bahwa buku ini menyajikan transformasi budaya lisan menjadi tulis, dari kearifan lokal menuju modernitas kolonial. Ada juga yang menyebut,

Kelemahan Buku

  • Gaya narasi akademik yang padat: Sesuai asal disertasinya, buku membutuhkan waktu dan ketekunan untuk dibaca — seperti ditulis oleh pembaca lain di Goodreads bahwa memerlukan waktu lama untuk menyelesaikan bacaan karena kedalaman analisisnya.
  • Kurangnya refleksi kritis tokoh Sunda lain: Fokus utama pada Moehamad Moesa bisa membuat tokoh lokal lain atau variasi sosial budaya Sunda kurang tereksplorasi.
  • Perspektif kolonial yang dominan: Seperti catatan pengantar, Moriyama mengkritisi bahwa budaya cetak dan bahasa Sunda dirumuskan oleh Belanda, sementara bumiputra tampak sebagai objek pasif—meskipun memang Belanda menjadi agen modernisasi awalnya.