Film dan Pascanasionalisme: 17 Esai Dalam Dua Bagian
Author Buku: Seno Gumira Ajidarma
ISBN: 978-623-293-766-6
Author Resensi: N Ratih Suharti
Tanggal Resensi: 26 Agustus 2025
Resensi Buku:
Buku ini bukan sekadar tentang film—melainkan ideologi, karena film secara konsisten memikul beban narasi nasionalisme Indonesia. Konsep utama dibangun di atas pengamatan mulai dari: Pemutaran perdana Darah dan Doa (1950) di Istana Merdeka; Pengaturan film di era Orde Baru melalui Departemen Penerangan, hingga; Era pasca-Reformasi, di mana Festival Film Indonesia menjadi panggung ujian: apakah film Indonesia itu “sudah Indonesia”? Buku ini menantang keterandalan konsep identitas dan nasionalisme, serta menyoal apakah dalam kerangka pascanasionalisme, identifikasi “film nasional” dapat dibiarkan mengambang tanpa definisi jelas.
Bagian I (sekitar 8 esai) menyuguhkan pengantar mendasar bagi pembaca awam terhadap persoalan sinema—meliputi aspek; Teknologi, bahasa, representasi, kebintangan (star system), industri, dan ekonomi budaya.
Bagian II mengarahkan pembaca ke diskursus lebih dalam tentang wacana “film nasional”—bagaimana ia dikonstruksi, ditantang, dan direformulasi dalam konteks ideologis pasca-Reformasi. Bagian ini menjadi inti pertarungan ideologis film sebagai medium kebangsaan.
Meskipun hanya dua esai yang secara eksplisit membahas ideologi—Bab 3: Ideologi dalam Representasi dan Bab 5: Ideologi dalam Artikulasi—tema ideologi meresap sepanjang esai lainnya: diantaranya sebagai berikut; dalam Bab 3, penekanan terhadap hubungan antara representasi film dan ideologi dilakukan melalui lensa realisme sinematik; Sedangkan dalm Bab 5 menggunakan pemikiran Louis Althusser tentang ideologi sebagai praktik sehari-hari. Tema ideologi tidak terjemahkan secara eksplisit dalam setiap esai, namun senantiasa menjadi benang merah analitis dalam keseluruhan tulisan.
Film dan Pascanasionalisme adalah karya yang mengajak pembaca menyelami film dari lensa ideologis dan kritis, melewati batas-batas hiburan dan estetika. Menggabungkan data historis, kajian budaya, dan refleksi kritis, buku ini menjadi sumber penting bagi mereka yang ingin memahami bagaimana film berperan sebagai sarana pergulatan antar-wacana dalam identitas nasional.
Kelebihan Buku:
- Gaya Bahasa Jelas dan Aksesibel; meski bukan kajian teori baru, buku ini efektif menjadi pijakan awal studi film—dengan bahasa yang mudah dicerna.
- Kerangka Analisis yang KuatMengakumulasi referensi historis, teknologi, ekonomi budaya, dan teori kritis—memberikan pemahaman holistik terhadap film sebagai medium ideologis.
- Relevansi Budaya dan Konteks Sosial
Pembaca diingatkan bahwa film lebih dari hiburan: ia adalah arena pengonstruksi identitas kebangsaan modern.
Kekurangan / Keterbatasan Buku:
- Kurangnya Kajian Teoritis Mendalam; buku ini lebih bersifat eksploratif daripada akademis mendalam—mungkin mengecewakan pembaca yang mencari teori film formal.
- Distribusi Umpan Balik Offline TerbatasOpen Library Telkom University mencatat belum ada ulasan dari pembaca—kemungkinan karena keterbatasan akses digital atau pembaca akademis yang belum memasukkannya ke publik.