Pelangi pesantren / Edy Mulyono
Author Buku: Edy Mulyono
ISBN: 978-602-60966-4-7
Author Resensi: N Ratih Suharti
Tanggal Resensi: 30 September 2025
Resensi Buku:
Pelangi Pesantren menceritakan perjalanan batin dan sosial seorang gadis bernama Shifa (nama tokoh fiksi yang digunakan di sini; cerita asli menggunakan tokoh sesuai naskah) yang dikirim oleh orang tuanya ke sebuah pesantren menengah di pinggiran kota setelah keluarganya mengalami kesulitan ekonomi. Di luar dugaan, pesantren itu bukan hanya menempatkan Shifa pada pendidikan agama formal, tetapi juga menguji keteguhan, jati diri, dan relasi antarmanusia yang ia miliki.
Di pesantren, Shifa berteman dengan Amin, santri cerdas namun pendiam; Siti, yang berani bersuara; dan Harun, yang memiliki masa lalu bermasalah. Persahabatan itu berkembang ketika mereka bersama-sama menghadapi tugas-tugas pesantren: turnamen tahfiz, peringatan Maulid, dan pengabdian pada masyarakat desa. Konflik muncul dari perbedaan cara pandang antara generasi tua (ajaran tradisional) dan pengasuh yang ingin memperbarui metode pendidikan, serta persaingan antar santri yang memunculkan fitnah kecil dan salah pengertian.
Ketika keluarga Shifa mengalami musibah (kemungkinan sakit atau masalah ekonomi yang lebih berat), Shifa bergumul antara kewajiban menolong keluarga dan tanggung jawab studi di pesantren. Di sisi lain, pesantren juga harus menghadapi tekanan: dana operasional menipis, pembangunan asrama tertunda, dan rumor yang melibatkan oknum luar yang berusaha mengikis reputasi pondok. Situasi yang menjadi ujian karakter bagi tokoh utama dan sahabatnya. Pelan-pelan, melalui pengajaran kyai yang bijak dan kerjasama antarsantri, Shifa belajar bahwa pendidikan bukan sekadar hafalan atau ritual, melainkan pembentukan akhlak, tanggung jawab sosial, dan keberanian menghadapi kenyataan.
Puncak cerita terjadi saat pesantren hampir kehilangan izin/gangguan dari pihak luar dan saat keluarga Shifa mencapai titik krisis. Dengan inisiatif para santri, pengasuh, dan alumni, mereka menggelar acara besar (semacam tabligh akbar sekaligus bazar dan donasi) yang berhasil menyatukan dukungan masyarakat. Keluarga Shifa menemukan jalan keluar—bukan dengan solusi instan, tetapi dengan jaringan solidaritas dari pesantren. Novel ditutup dengan simbol “pelangi” — bukan sekadar fenomena alam, tetapi metafora harapan yang muncul setelah hujan masalah. Shifa, kini lebih kuat dan dewasa, melihat masa depan dengan optimisme: ia berkomitmen untuk mengabdi pada pendidikan dan akan meneruskan semangat pesantren yang humanis. Pesan moral novel ini menekankan pentingnya ukhuwah (persaudaraan), keteguhan iman, serta peran pendidikan pesantren sebagai pengolah karakter dan agen perubahan sosial.