Sejarah Cilegon: Riwayat Kota Baja Di Ujung Barat Pulau Jawa

Author Buku: Mufti Ali;Hendri F Isnaeni, Tim Disbudpar Kota Cilegon

ISBN: 978-000-000-000-0

Author Resensi: N Ratih Suharti

Tanggal Resensi: 27 Oktober 2025

Resensi Buku:

Buku ini bukan sekadar catatan kronologis. Ia adalah sebuah upaya historiografis yang penting untuk mengontekstualisasikan Cilegon dalam panggung sejarah Banten dan nasional. Mufti Ali dkk. tidak memulai narasinya dari peletakan batu pertama pabrik, melainkan melacak jauh ke belakang, menempatkan Cilegon sebagai bagian integral dari wilayah Banten di ujung barat Jawa, dengan corak masyarakatnya yang agraris dan religius.

Fokus utama dan KEKUATAN terbesar dari buku ini terletak pada analisisnya mengenai titik balik sejarah Cilegon: penetapan wilayah ini sebagai pusat industri baja nasional pada era Orde Baru. Pendirian Proyek Besi Baja Trikora, yang kemudian bermuara pada lahirnya PT Krakatau Steel pada tahun 1970, dianalisis sebagai "big bang" yang mengubah segalanya. Para penulis dengan cermat menguraikan bagaimana keputusan politik dan ekonomi di tingkat nasional ini berdampak langsung ke tingkat lokal. Buku ini memaparkan transformasi dramatis yang terjadi, mulai dari proses pembebasan lahan besar-besaran, perubahan tata ruang kota, hingga pergeseran fundamental struktur sosial-ekonomi masyarakat. Identitas Cilegon yang semula agraris—dengan sawah dan ladang—secara masif beralih menjadi kawasan industri berat.

"Sejarah Cilegon" tidak terjebak dalam narasi "sejarah pabrik" semata. Mufti Ali dkk. mampu memperlihatkan bahwa di tengah deru mesin industri, denyut kehidupan sosial-budaya dan keagamaan tetap berjalan, beradaptasi, dan bahkan bernegosiasi dengan perubahan. Buku ini turut menyoroti bagaimana lembaga-lembaga sosial-keagamaan yang telah lama mengakar, seperti Perguruan Islam Al-Khairiyah, merespons gelombang modernisasi dan industrialisasi. Ini menunjukkan sebuah kompleksitas, di mana tradisi dan modernitas industrial tidak saling meniadakan, melainkan saling berkelindan membentuk wajah baru Cilegon. Buku ini berhasil menangkap dinamika sosial tersebut, memberikan gambaran yang lebih utuh tentang manusia-manusia yang hidup di dalam "Kota Baja". "Sejarah Cilegon" adalah riwayat tentang sebuah kota yang identitasnya ditempa oleh api industri, sebuah narasi yang berhasil dibingkai dengan baik oleh Mufti Ali dkk.

KELEMAHAN dari buku ini adalah memiliki fokus narasi yang lebih "resmi" dan terstruktur, menyoroti sejarah pembangunan dan kemajuan kota, karena diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Sedangkan untuk Pembaca yang mencari sejarah "dari bawah" (people's history) yang lebih kritis, mungkin perlu melengkapi bacaannya dengan sumber lain.