Anchika: Dia Yang Bersamaku Tahun 1995
Author Buku: Pidi Baiq
ISBN: 978-602-6716-89-7
Author Resensi: N Ratih Suharti
Tanggal Resensi: 16 Desember 2025
Resensi Buku:
Novel ini adalah spin-off sekaligus kelanjutan dari kisah Dilan, tokoh utama dari trilogi Dilan 1990, Dilan 1991, dan Milea: Suara dari Dilan. Namun, kali ini cerita disajikan dari sudut pandang tokoh perempuan baru, yaitu Ancika Mehrunisa Rabu.
Kisah dimulai pada tahun 1995 di Bandung. Dilan, yang kini sudah beranjak dewasa dan berstatus sebagai mahasiswa tingkat akhir di ITB (Fakultas Teknik Industri), bertemu dengan Ancika Mehrunisa Rabu, seorang siswi SMA kelas 2 yang cerdas dan ambisius. Meskipun perkenalan mereka tidak direncanakan, keduanya mulai menjalin kedekatan yang unik. Awalnya, Ancika menunjukkan sikap yang cukup dingin dan tidak terkesan dengan reputasi Dilan sebagai mantan panglima tempur di masa SMA. Dilan yang usianya jauh lebih tua (sekitar 7 tahun) dan berstatus mahasiswa, harus berjuang keras untuk mengambil hati Ancika yang sangat menjaga jarak. Ancika tidak suka dengan gombalan, tidak tertarik pada hal-hal romantis yang berlebihan, dan memandang Dilan hanya sebagai "mantan" kekasih orang lain.
Hubungan mereka berkembang di tengah perbedaan karakter dan fase hidup yang kontras. Dilan: Dikenal dengan bahasanya yang puitis, gombalan khas, dan sifatnya yang santai serta kadang seenaknya. Ia mencoba kembali ke gaya lama untuk memikat Ancika, namun sering kali gagal. Ancika: Digambarkan sebagai gadis yang lugas, realistis, dan punya prinsip kuat. Dia lebih suka disamakan dengan sahabat atau kakak bagi Dilan, dan sangat anti terhadap sebutan "pacar. Dilan harus beradaptasi dan menemukan cara baru untuk mendekati Ancika. Dia mulai sering datang ke rumah Ancika, membantu belajar (meski Ancika lebih pintar), dan mengajak Ancika ke tempat-tempat yang lebih bersifat intelektual. Ancika sendiri punya panggilan unik untuk Dilan, seperti "Bapak," "Abang," atau "Aya Dilan," untuk menegaskan status non-romantis mereka di matanya. Perjuangan Dilan dalam mendapatkan Ancika inilah yang menjadi inti cerita. Ia harus melewati ujian yang berat, terutama karena Ancika selalu membandingkannya dengan mantan kekasih Dilan, Milea Adnan Hussain. Meskipun Ancika berkali-kali menolak label "pacar," kedekatan mereka semakin intens. Ada banyak momen cemburu, kesalahpahaman, dan upaya Dilan untuk meyakinkan Ancika bahwa ia telah move on sepenuhnya dari masa lalunya bersama Milea.
Novel ini menyoroti bagaimana Ancika akhirnya meluluhkan hatinya dan mengakui perasaannya terhadap Dilan, tetapi dengan caranya sendiri yang unik. Pada akhirnya, Ancika-lah yang menjadi sosok "Dia Yang Bersamaku Tahun 1995" dalam hidup Dilan. Novel ini ditutup dengan kisah Dilan dan Ancika yang akhirnya resmi bersama, sekaligus memberikan gambaran sekilas mengenai masa depan Dilan setelah lulus kuliah dan bagaimana hubungannya dengan Ancika menjadi penutup yang indah bagi Dilan.