Bukan Ini Yang Kupinta
Author Buku: Dwi Isnawati
ISBN: 978-623-5397-35-1
Author Resensi: N Ratih Suharti
Tanggal Resensi: 25 Februari 2026
Resensi Buku:
Buku "Bukan Ini Yang Kupinta" karya Dwi Isnawati adalah sebuah novel fiksi yang kental dengan nuansa drama keluarga, pengorbanan, dan pergolakan batin seorang perempuan. Novel ini mengeksplorasi tema bahwa rencana manusia seringkali harus tunduk pada ketetapan Tuhan yang tidak terduga.
Cerita berpusat pada kehidupan Aira, seorang wanita yang memiliki impian dan rencana masa depan yang tertata rapi. Namun, dunianya jungkir balik ketika ia dihadapkan pada sebuah kenyataan pahit yang memaksanya mengambil keputusan paling sulit dalam hidupnya.
Konflik dimulai ketika Aira harus menerima pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Alih-alih menikah karena cinta yang ia bangun sendiri, ia terjebak dalam situasi yang mengharuskannya menikahi pria yang merupakan pilihan keluarganya, atau karena sebuah "amanah" yang ditinggalkan oleh orang terkasih.
Alur Cerita: ada beberapa point inti dari Novel “Bukan Ini Yang Kupinta” diantaranya sbb;
- Kehilangan dan Janji: Aira mengalami kehilangan besar yang menjadi titik balik hidupnya. Di tengah duka tersebut, muncul permintaan (wasiat) dari orang tuanya atau sosok yang ia hormati untuk menjalin ikatan pernikahan dengan pria bernama Fathan.
- Pergulatan Batin: Aira merasa bahwa takdir sedang mempermainkannya. Ia merasa apa yang terjadi saat ini adalah "Bukan Ini Yang Kupinta". Fathan, pria yang dijodohkan dengannya, memiliki karakter yang sangat kontras dengan sosok pria impian Aira.
- Masa Lalu yang Membayangi: Perjalanan pernikahan mereka tidak berjalan mulus. Ada bayang-bayang masa lalu dan perasaan yang belum tuntas di hati Aira, serta sikap dingin atau kaku dari Fathan yang membuat komunikasi mereka sering kali buntu.
- Proses Penerimaan: Seiring berjalannya waktu, melalui berbagai ujian rumah tangga—mulai dari kesalahpahaman hingga cobaan eksternal—Aira mulai melihat sisi lain dari Fathan. Ia belajar bahwa cinta tidak selalu datang dari pandangan pertama, melainkan dari ketulusan dan pengabdian.
Pesan Moral
Novel ini menekankan pada konsep ikhlas dan prasangka baik kepada Tuhan. Penulis ingin menyampaikan bahwa apa yang kita anggap buruk, belum tentu buruk di mata Sang Pencipta. Keindahan sering kali tersembunyi di balik hal-hal yang awalnya kita tolak dengan keras.