Tanpa Rencana

Author Buku: Dee Lestari

ISBN: 978-623-186-435-2

Author Resensi: N Ratih Suharti

Tanggal Resensi: 16 Desember 2025

Resensi Buku:

"Tanpa Rencana" merupakan kumpulan fiksi mini yang dikemas dalam format cerita-cerita pendek (atau fiksi mini) yang sangat ringkas, buku ini berhasil menyajikan spektrum tema yang luas dan mendalam, khas gaya penulisan Dee Lestari yang reflektif dan filosofis. "Tanpa Rencana" bukanlah novel dengan alur linier. Ini adalah mozaik refleksi dan fragmen cerita yang dirangkai menjadi satu kesatuan yang kohesif. Ini adalah perayaan terhadap momen "tanpa rencana" yang membentuk takdir kita.

Buku ini terdiri dari 133 cerita pendek yang sangat ringkas, di mana setiap cerita hanya terdiri dari beberapa paragraf, atau bahkan beberapa kalimat saja. Setiap fiksi mini beroperasi sebagai kapsul ide, momen, atau observasi yang tajam tentang kehidupan, cinta, hubungan, dan keberadaan. Meskipun judulnya "Tanpa Rencana," cerita-cerita di dalamnya sering kali menyentuh bagaimana hidup terjadi di luar kendali dan perencanaan manusia, merayakan keindahan dan kekacauan dari spontanitas, takdir, dan momen-momen kecil yang membentuk hidup. Tema yang berisi dalam cerita-cerita di buku Tanpa Rencana ini diantaranya tentang;

  1. Relasi dan Interaksi Manusia: Cerita-cerita ini mengeksplorasi kerentanan, kesalahpahaman, cinta yang diam-diam, dan perpisahan yang tak terhindarkan. Dee berhasil menangkap esensi emosi yang kompleks hanya dalam beberapa baris.
  2. Eksistensialisme dan Refleksi Diri: Cerita-cerita ini mengajak pembaca untuk merenungkan keberadaan mereka sendiri, pilihan yang telah mereka buat, dan realitas yang mereka ciptakan.
  3. Observasi Detail Kehidupan Sehari-hari: Dee memiliki kemampuan luar biasa untuk menemukan hal-hal penting dalam kejadian sehari-hari yang sering terlewatkan. Sebuah tatapan, secangkir kopi, sebuah perjalanan, atau bahkan keheningan di malam hari dapat menjadi pemicu sebuah cerita pendek yang kuat dan berkesan.
  4. Metafora dan Simbolisme: Meskipun singkat, cerita-cerita ini sering menggunakan bahasa yang kaya metafora dan simbol. Misalnya, 'rencana' itu sendiri bisa menjadi metafora untuk kontrol, dan 'tanpa rencana' menjadi simbol untuk penerimaan terhadap ketidakpastian.

Keunikan utama buku ini terletak pada formatnya. Fiksi mini ini menuntut kejelasan dan kepadatan makna yang maksimal. Dee Lestari membuktikan kemahirannya dalam menulis dengan:

  • Kecepatan dan Dampak: Pembaca dapat menyelesaikan satu cerita dalam waktu kurang dari satu menit, namun dampaknya sering kali bertahan lebih lama, memicu pemikiran yang lebih dalam.
  • Penggunaan Kata yang Efisien: Tidak ada kata yang sia-sia. Setiap kata dipilih untuk memaksimalkan narasi dan emosi yang disampaikan.