Model Pengelolaan Ekomuseum Kawasan Padanglawas / RITA Margaretha Setianingsih

Author Buku: RITA Margaretha Setianingsih

ISBN: 978-623-99839-0-1

Author Resensi: N Ratih Suharti

Tanggal Resensi: 04 Mei 2026

Resensi Buku:

Buku ini membahas urgensi dan strategi pengembangan model ekomuseum sebagai solusi pelestarian terintegrasi bagi situs-situs arkeologi di kawasan Padang Lawas, Sumatera Utara. Padang Lawas memiliki kekayaan warisan budaya yang unik, terutama berupa kompleks biara (candi) bercorak Hindu-Buddha dari abad ke-11 hingga ke-14 Masehi, yang tersebar di bentang alam yang luas. Namun, keberadaan situs-situs ini menghadapi tantangan serius berupa kerusakan alami, alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit, serta kurangnya keterlibatan masyarakat lokal dalam pelestarian.

Penulis menawarkan konsep ekomuseum—sebuah museum "tanpa dinding"—yang tidak hanya memfokuskan pada perlindungan fisik artefak (objek), tetapi juga menekankan pada pelestarian lingkungan (skala ruang) dan pemberdayaan masyarakat (subjek). Melalui model ini, warisan budaya dipandang sebagai satu kesatuan ekosistem dengan masyarakatnya.

 

Poin-poin utama yang dibahas meliputi:

  • Identifikasi Potensi: Pendataan komprehensif terhadap situs-situs di Padang Lawas dan nilai pentingnya dalam sejarah maritim serta keagamaan Nusantara.
  • Analisis Permasalahan: Evaluasi terhadap faktor-faktor yang mengancam kelestarian situs, baik dari sisi kebijakan maupun aktivitas ekonomi sekitar.
  • Model Pengelolaan: Strategi kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat lokal untuk menjadikan cagar budaya sebagai penggerak kesejahteraan ekonomi melalui pariwisata berkelanjutan.
  • Visi Masa Depan: Transformasi Padang Lawas menjadi laboratorium hidup di mana sejarah, alam, dan kehidupan sosial masyarakat modern dapat tumbuh berdampingan secara harmonis.

 

Buku ini menjadi referensi penting bagi para arkeolog, pengambil kebijakan di bidang kebudayaan, praktisi pariwisata, serta masyarakat umum yang peduli terhadap pelestarian warisan budaya bangsa yang berbasis pada kearifan lokal.