Maharani Myeongseong II (Jurnal Istana Geoncheong)

Author Buku: Park, Young-Kyu; Penerjemah, Dwita Rizki

ISBN: 978-623-8371-16-7

Author Resensi: N Ratih Suharti

Tanggal Resensi: 25 Maret 2026

Resensi Buku:

Buku ini berlatar di Istana Geoncheong, sebuah kediaman di dalam kompleks Istana Gyeongbokgung yang menjadi saksi bisu hari-hari terakhir sang Maharani. Narasi berfokus pada ketegangan geopolitik di akhir abad ke-19, di mana Dinasti Joseon terjepit di antara ambisi negara-negara besar, terutama Jepang yang agresif. Novel sejarah ini merupakan kelanjutan dari saga kehidupan salah satu tokoh paling ikonik sekaligus tragis dalam sejarah Korea, Maharani Myeongseong (sering dikenal sebagai Ratu Min). Jika buku pertama lebih fokus pada perjuangan awal sang Ratu di dalam istana, volume kedua ini membawa pembaca ke dalam pusaran konflik politik yang jauh lebih gelap dan berbahaya.

Penulis (Park, Young-Kyu) menggunakan pendekatan faksi (fakta dan fiksi), di mana ia mendasarkan alur ceritanya pada catatan sejarah yang kuat (seperti jurnal istana) namun menghidupkannya dengan dialog dan emosi yang mendalam. Pembaca diajak melihat sisi manusiawi Myeongseong—bukan sekadar simbol sejarah, melainkan seorang istri dan ibu yang berjuang mempertahankan kedaulatan negaranya hingga titik darah terakhir.

Ancaman untuk sang Maharani tidak hanya datang dari dalam lingkup tembok istana saja. Ia tidak bisa hidup dengan tenang karena harus memikul beban berat memikirkan nasib dan masa depan negaranya. Joseon pada masa itu berada dalam kondisi yang sangat lemah dan suram, terkepung di tengah gempuran ambisi negara-negara kuat. Dinasti Qing (Tiongkok) dan Jepang berniat untuk menduduki Joseon, sementara negara-negara adidaya Barat juga mengintai, berusaha mendulang keuntungan ekonomi dan politik dari letak geografis Joseon yang sangat strategis.

Sebagai sosok yang sangat vokal menyuarakan ambisinya untuk memodernisasi dan memajukan Joseon, Maharani Myeongseong menjadi target utama. Ia dikelilingi oleh musuh, baik dari faksi politik dalam negeri maupun pihak asing. Akibatnya, berbagai intrik, kudeta, dan konspirasi pembunuhan diarahkan kepadanya secara bertubi-tubi. Di tengah kepungan bahaya tersebut, Maharani harus memutar otak untuk menyelamatkan diri dan mempertahankan posisinya. Kisah ini membawa pembaca pada sebuah dilema moral yang besar: Apakah semua manuver politik yang dilakukan oleh Maharani murni demi menyelamatkan Joseon, ataukah sebenarnya itu semua demi ambisi pribadi dan kejayaan keluarganya sendiri?

Buku ini memadukan fakta sejarah nyata dari akhir era Joseon dengan bumbu fiksi yang rapi, sehingga terasa seperti membaca catatan harian atau jurnal sejarah yang autentik.