Tiga Keping Hati

Author Buku: Arunyka Ury

ISBN: 978-623-457-160-8

Author Resensi: N Ratih Suharti

Tanggal Resensi: 11 Juni 2026

Resensi Buku:

"Tiga Keping Hati" merupakan novel fiksi yang menyajikan kisah emosional yang berpusat pada tema cinta, pengorbanan, dan pencarian jati diri melalui sudut pandang tiga tokoh utamanya yaitu; Nastiti, Bagas dan Ayu. novel ini mengisahkan tentang tiga "kepingan" kehidupan yang saling bertautan—tiga hati manusia yang masing-masing membawa luka, harapan, dan rahasia masa lalu. Cerita bergulir di seputar konflik hubungan yang kompleks, di mana ego, kesetiaan, dan takdir diuji di satu titik temu.

Ketiga tokoh utama dalam buku ini digambarkan memiliki latar belakang dan karakter yang sangat kontras, namun disatukan oleh sebuah benang merah tak kasat mata. Hati pertama mewakili mereka yang terjebak dalam kenangan masa lalu dan sulit untuk melangkah maju. Hati kedua berjuang di antara logika dan perasaan, mencoba mempertahankan apa yang dianggapnya benar meski harus terluka. Hati ketiga adalah sosok yang datang membawa ketulusan, namun justru dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa cinta tidak selalu harus memiliki.

Dalam perjalanan mereka, rahasia terungkap, ketegangan meningkat dan pilihan sulit harus dihadapi. Dari insiden di ulang tahun teman hingga petualangan di Lombok. Kisah ini menjelajahi berbagai tema universal seperti cinta, kehilangan, pengorbanan dan penebusan. Seiring dengan perkembangan cerita, pembaca akan merasakan kedalaman emosional yang dihadapi oleh masing-masing karakter. Dan menjadikan Tiga Keping Hati sebuah refleksi yang menyentuh yaitu tentang cinta dan kehidupan.

Melalui narasi yang puitis namun tetap mengalir, pembaca diajak menelusuri bagaimana ketiga hati ini saling berbenturan, terluka, hingga akhirnya menemukan jalan untuk saling menyembuhkan. Lebih dari sekadar kisah romansa biasa, novel ini juga menyelipkan pesan moral yang kuat tentang arti keikhlasan, pentingnya memaafkan diri sendiri, dan bagaimana menerima kenyataan hidup dengan lapang dada.

"Karena pada akhirnya, hati yang utuh bukanlah hati yang tidak pernah patah, melainkan hati yang berhasil menyatukan kembali kepingan-kepingannya lewat keikhlasan." Sebuah fiksi lokal yang hangat dan menyentuh, sangat cocok bagi para pencinta drama kehidupan yang penuh dengan pergolakan batin dan pesan menyentuh tentang kedewasaan. (N Ratih Suharti)