Epos Selat Jawa-Madura: Kendheng-Demak-Roban dari Jalur Laut, Jalan Pos hingga Tol Trans-Jawa

Author Buku: Stefanus, Lucas Pertanda Koestoro dan Rita M Setianingsih

ISBN: 978-623-99839-1-8

Author Resensi: N Ratih Suharti

Tanggal Resensi: 23 Juli 2026

Resensi Buku:

Buku Epos Selat Jawa-Madura: Kendheng-Demak-Roban dari Jalur Laut, Jalan Pos hingga Tol Trans-Jawa merupakan karya dokumentasi sejarah dan arkeologi lansekap yang sangat kaya. Koridor pesisir utara Jawa Tengah hingga Jawa Timur (kawasan Kendheng, Demak, hingga Alas Roban) merupakan ruang geografis yang mengalami transformasi geopolitik dan spasial paling radikal di Nusantara. Wilayah yang pada masa lampau didominasi oleh perairan Selat Muria (dalam buku ini dirujuk dalam konteks interaksi Selat Jawa-Madura purba) telah berubah menjadi pusat urat nadi transportasi darat modern. Buku ini mendokumentasikan "epos" atau kisah besar perubahan ruang tersebut, yang digerakkan oleh dinamika alam dan ambisi infrastruktur manusia.

Buku ini bertujuan untuk merekonstruksi sejarah konektivitas di koridor Kendheng-Demak-Roban dengan membaginya ke dalam tiga fase transisi moda transportasi utama:

  1. Fase Jalur Maritim (Abad Klasik - Islam): Berfokus pada eksistensi Selat Muria sebagai jalur pelabuhan internasional dan posisi Demak sebagai imperium maritim sebelum selat tersebut mengalami pendangkalan (sedimentasi) masif.
  2. Fase Jalan Raya Pos / De Grote Postweg (Abad ke-19): Menganalisis peralihan orientasi geopolitik dari laut ke darat oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda (Daendels), yang membelah rintangan alam berat seperti pegunungan kapur Kendheng dan hutan lebat Alas Roban.
  3. Fase Tol Trans-Jawa (Abad ke-21): Meneliti modernisasi konektivitas kontemporer, dampaknya terhadap struktur agraria, situs arkeologi, serta ekselerasi ekonomi kawasan.

Penyusunan buku penelitian ini menggunakan pendekatan multidisiplin yang komprehensif. Penulis mengombinasikan metode Arkeologi Spasial dan Geoarkeologi (untuk memetakan perubahan garis pantai purba dan pendangkalan selat), analisis sejarah peradaban berbasis teks/babad kuno, serta kajian kartografi melalui perbandingan peta-peta navigasi kolonial dengan citra satelit modern.

Buku ini menyimpulkan bahwa sejarah koridor Kendheng-Demak-Roban adalah manifestasi dari peralihan identitas Jawa, dari peradaban yang berorientasi pada "kejayaan bahari" (maritim) menuju peradaban "pedalaman dan agraris-industri" (terestrial). Sinkronisasi antara pelestarian sejarah-arkeologi dan ambisi pembangunan infrastruktur modern mutlak diperlukan agar pembangunan ekonomi saat ini tidak menghapus memori kolektif ruang masa lalu.