Berburu Berita Di Langit

Author Buku: Ahmad Faoji

ISBN: 978-634-7597-19-9

Author Resensi: N Ratih Suharti

Tanggal Resensi: 06 Juli 2026

Resensi Buku:

Novel ini membawa pembaca masuk ke dalam dunia jurnalistik yang dinamis, menantang, namun dikemas dengan sentuhan idealisme yang tinggi. "Berburu Berita Di Langit" merupakan sebuah metafora tentang perjuangan para pemburu berita (jurnalis) yang tidak hanya mengejar informasi di bumi demi rating atau sensasi, melainkan mereka yang mengejar kebenaran hakiki—sebuah idealisme "langit" yang bersih, jujur, dan berpihak pada keadilan. Cerita berpusat pada kehidupan seorang jurnalis muda berbakat yang memegang teguh kode etik profesinya di tengah gempuran industri media modern yang mulai kehilangan arah dan dikuasai oleh kepentingan politik serta korporasi.

Cerita dimulai dengan ambisi besar sang tokoh utama saat meniti karier di sebuah redaksi media cetak dan digital terkemuka. Ia digambarkan sebagai sosok yang gigih, selalu berada di garis depan untuk meliput peristiwa-peristiwa penting. Namun, benturan realitas segera terjadi ketika ia mendapati bahwa berita-berita investigasi yang ia susun dengan susah payah sering kali harus "dijinakkan" atau bahkan dihapus oleh kebijakan redaksi demi mengamankan sponsor dan relasi pemilik media.

Konflik memuncak ketika sang jurnalis menemukan sebuah benang merah dari kasus korupsi dan ketidakadilan sistemik yang melibatkan tokoh-tokoh besar di pemerintahan. Di sinilah petualangan "berburu berita" yang sesungguhnya dimulai. Bersama dengan beberapa rekan yang masih memiliki visi yang sama, mereka melakukan investigasi senyap. Risiko yang dihadapi tidak main-main—mulai dari intimidasi, ancaman karier, hingga keselamatan nyawa. Di bagian ini, Ahmad Faoji dengan lihai menggambarkan ketegangan ruang redaksi, pergulatan batin, dan intrik di balik meja kekuasaan.

Menjelang akhir, narasi bergeser pada sebuah kesadaran bahwa "berita di langit" adalah suara-suara mereka yang tertindas yang tidak pernah terdengar di bumi. Meski menghadapi tembok besar kekuasaan, sang tokoh utama memilih jalan berani untuk tetap menyuarakan kebenaran, membuktikan bahwa integritas seorang jurnalis tidak bisa dibeli. Akhir cerita menyajikan resolusi yang realistis namun memberikan secercah harapan bagi dunia pers.