Moga Bunda Disayang Allah

Author Buku: Tere Liye

ISBN: 978-979-321-079-7

Author Resensi: N Ratih Suharti

Tanggal Resensi: 04 Agustus 2026

Resensi Buku:

Novel ini mengisahkan tentang Melati, seorang anak perempuan berusia enam tahun yang mengalami kecelakaan tragis saat berusia tiga tahun. Kecelakaan tersebut merenggut penglihatan, pendengaran, dan kemampuannya untuk berbicara. Melati hidup dalam kegelapan dan kesunyian total. Karena tidak bisa berkomunikasi, ia tumbuh menjadi anak yang pemarah, sering mengamuk, dan sulit dikendalikan.

Bunda (Ibu Melati) adalah sosok yang penuh kasih sayang dan pantang menyerah. Ia terus berdoa dan berusaha agar ada keajaiban yang bisa membawa Melati keluar dari "penjara" kegelapannya. Di sisi lain, HK—ayah Melati—mulai merasa putus asa dan menganggap usaha mereka sia-sia.

Harapan baru muncul ketika Karang hadir di rumah mereka. Karang adalah seorang pemuda yang berprofesi sebagai pemuda pengasuh di sebuah yayasan anak. Namun, Karang memiliki masa lalu yang sangat kelam dan trauma berat akibat insiden kapal tenggelam yang merenggut nyawa anak-anak asuhnya. Sejak kejadian itu, Karang tenggelam dalam rasa bersalah dan menjadi seorang pemabuk.

Pertemuan antara Karang dan Melati bukanlah hal yang mudah. Karang harus berhadapan dengan kemarahan Melati, sementara ia sendiri masih berjuang melawan bayang-bayang trauma masa lalunya. Namun, lewat kesabaran, pendekatan yang tidak biasa, dan kasih sayang yang tulus, Karang perlahan-lahan mulai mengajari Melati cara "melihat" dan "mendengar" dunia menggunakan indra perabanya—melalui telapak tangan.

Melalui perjuangan yang menguras emosi dan air mata, Karang berusaha menanamkan pemahaman tentang konsep Tuhan, kasih sayang, dan indahnya kehidupan kepada Melati. Di saat yang sama, ketabahan Melati justru menjadi obat yang menyembuhkan luka batin Karang sendiri.

Tema Utama dari novel ini adalah Ketabahan dan Kasih Sayang Ibu; yaitu Perjuangan tanpa henti seorang ibu yang percaya pada kekuatan doa dan keajaiban Tuhan. Kemudian Penerimaan dan Kebangkitan; yakni Perjalanan menyembuhkan trauma masa lalu dan menerima takdir dengan lapang dada. Selanjutnya Komunikasi Membusur Batas; yakni tentang Pembuktian bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk merasakan kasih sayang dan mengenal Sang Pencipta.