Rukmini dan Perkara-perkaranya
Author Buku: A Djoyo Mulyono
ISBN: 978-623-8371-76-1
Author Resensi: N Ratih Suharti
Tanggal Resensi: 29 Oktober 2026
Resensi Buku:
Di sebuah desa bernama Jagapura di kawasan Cirebon, hidup seorang perempuan paruh baya bernama Rukmini. Rukmini adalah gambaran perempuan desa yang tangguh, namun hidupnya seolah tidak pernah sepi dari hempasan "perkara". Masalah dalam rumah tangganya datang bertubi-tubi; Suaminya mengalami kebangkrutan mendadak dalam usaha peternakan dan berubah menjadi pengangguran yang kaku serta murung. Anak laki-lakinya (anak lanang) sering kali berulah dan hobi terlibat perkelahian atau adu jotos. Belum lagi perselisihan dan gesekan antar-tetangga yang mewarnai kehidupan sehari-hari di kampung tempat ia tinggal.
Di tengah beban hidup yang menghimpit, Rukmini dipaksa menavigasi kesehariannya dalam kungkungan atmosfer desa yang riuh. Namun, alih-alih diceritakan secara melankolis atau tragis, dinamika sosial di Desa Jagapura dibingkai oleh "budaya gosip" ala Cirebonan. Gunjingan di pos ronda, bisik-bisik antar-tetangga di teras rumah, rumor mengenai perekonomian keluarga, hingga kabar miring tentang tabiat sang anak menyebar dengan begitu cepat. Gosip di desa ini bukan sekadar omongan kosong belakangan, melainkan bertindak sebagai pembentuk realitas sosial, mekanisme kontrol warga, sekaligus hiburan bagi masyarakatnya.
Rukmini berada di titik sentral narasi. Bila saja ia diberi ruang keberanian dan kesempatan melangkah lebih jauh, ia ingin terbang terbebas dari lingkaran perkara tersebut. Walau diapit oleh tekanan ekonomi keluarga dan sorotan mata serta lidah tetangga, Rukmini terus berjuang mempertahankan keutuhan keluarganya serta martabat dirinya.
Unsur menarik dari novel ini adalah bagaimana "budaya desas-desus" atau rumor menjadi pendorong utama alur cerita (plot driver). Peristiwa demi peristiwa—mulai dari penyebab bangkrutnya peternakan suami hingga masalah anak Rukmini—terkuak dan berkembang seiring dengan spekulasi yang dilontarkan oleh warga desa.
Novel ini menyajikan lanskap sosial pedesaan pesisir/Cirebonan yang sangat autentik. Lewat perpaduan antara kepedihan hidup Rukmini dan riuhnya pembicaraan warga, cerita ini tidak hanya menghibur lewat humor lokalnya, tetapi juga menjadi potret kritis mengenai keterbatasan ruang bagi perempuan di tengah tradisi dan tekanan lingkungan sosialnya. memanfaatkan dialek lokal serta gaya tutur khas Cirebonan untuk menghidupkan percakapan antar-tokoh. Gosip diolah menjadi ruang tutur yang penuh humor, satire, dan kejenakaan, tetapi sekaligus tajam dalam menelanjangi kepalsuan dan dinamika kelas sosial masyarakat desa. Setiap "perkara" yang menimpa Rukmini diproses lewat ruang dengar tetangga sebelum akhirnya menjadi konsumsi umum.